##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Putri Rossyana Dewi Dian Kusumastuti Anak Agung Ngurah Bagus Widya Putra

Abstract

Latar Belakang: Paralisis nervus fasialis perifer dapat menyebabkan gangguan motorik otot wajah. Pemeriksan elektromiografi berguna untuk mendiagnosis sekaligus menentukan prognosis pasien. Laporan ini mengidentifikasi perubahan amplitudo serta potensi bangkitan otot pada paralisis nervus fasialis perifer.


Kasus: Seorang pria berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan mata kanan tidak bisa ditutup dan bibir tertarik ke sisi kiri sejak seminggu lalu. Pemeriksaan neurologi menunjukkan lesi nervus VII infranuklear kanan. Evaluasi terapi kortikosteroid dan fisioterapi belum menghasilkan perbaikan gejala klinis sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan elektromiografi. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya respons nervus fasialis kanan, sedangkan pada sisi kiri hasilnya normal.


Diskusi: Perubahan hasil pemeriksaan elektromiografi pada kasus ini akibat penurunan eksitasi akson pada degenerasi serabut saraf. Hasil ini dapat menentukan prognosis dari pasien, adanya perbedaan nilai amplitudo dan latensi distal > 90% dibandingkan sisi yang sehat memiliki prognosis buruk.


Simpulan: Perubahan hasil pemeriksaan elektromiografi pada kasus paralisis nervus fasialis perifer ditandai dengan menurunnya amplitudo dan pemanjangan latensi distal serabut saraf yang mempersarafi wajah. Hasil tersebut berpengaruh terhadap prognosis


Kata Kunci: Paralisis Nervus Fasialis Perifer, Elektromiografi, Prognosis

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Section
Artikel