##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Kelvin Yuwanda Anak Agung Ayu Putri Laksmidewi Ketut Widyastuti

Abstract

Latar Belakang: Kasus stroke cenderung mengalami peningkatan baik kematian maupun kecacatan. Morbiditas pascastroke dapat berupa masalah fisik, psikis, dan kognitif. Risiko gangguan fungsi kognitif meningkat sebesar tiga kali lipat setelah suatu awitan stroke dan 25-50% di antaranya akan berkembang menjadi demensia pascastroke. Penilaian gangguan fungsi kognitif pada penderita pascastroke sangat penting oleh karena gangguan fungsi kognitif berhubungan dengan luaran fungsional yang buruk, tingkat ketergantungan yang tinggi, kualitas hidup yang rendah, dan angka kematian yang tinggi. Hubungan lokasi lesi dengan gangguan kognitif pada stroke masih menunjukkan hasil yang berbeda.


Metode: Penelitian potong lintang pada penderita pascastroke yang dirawat di bangsal rawat inap dan poliklinik saraf RSUP Sanglah Denpasar mulai Oktober 2018 sampai Desember 2018 dengan menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesian Version (MoCA-Ina). Total penderita stroke yang masuk dalam kriteria inklusi sebanyak 80 orang (52 laki-laki dan 28 perempuan).


Hasil: Gangguan kognitif didapatkan pada pada 60 penderita stroke (75%), sedangkan sebanyak 20 penderita stroke (25%) tidak mengalami gangguan kognitif. Pada penelitian ini, didapatkan hubungan bermakna antara lokasi stroke dengan gangguan kognitif dengan odd ratio (OR) 6,476 ; 95% IK 1.716-24.439; p=0.006.


Simpulan: Pasien stroke dengan lokasi lesi di hemisfer kiri mengalami kecenderungan gangguan fungsi kognitif dibandingkan dengan lokasi lesi di hemisfer kanan.


 

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Section
Artikel